Surat Kabar 99

BERITA HARIAN | BERITA OLAHRAGA | CERITA SEKS | LIVE SCORE

Judi Online - Situs Judi Bola Online & Bandar Togel Online | Istana168

Poker Online - Situs Judi Agen Poker Online terpercaya | MustikaPoker

SELAMAT DATANG DI SURAT KABAR 99

Senin, 19 Februari 2018

Raksasa Gitar Gibson di Ambang Kebangkrutan



Suratkabar99, Setelah memberikan cincin pada kedua mempelai, pria berambut kribo sebahu dan bertopi tinggi itu keluar dari gereja. Adegan kemudian berpindah ke ia yang bertelanjang dada, berjaket kulit, berjalan keluar dari gereja kecil di tengah prairi, menenteng gitar Gibson Les Paul sunburst.


Dari sana, tidak sekali, tapi dua kali, Slash memainkan salah satu solo gitar terindah sekaligus tersendu yang pernah dihasilkan oleh umat manusia. Lagu "November Rain" mungkin menginspirasi jutaaan anak muda untuk angkat gitar dan berjihad di jalan rock n roll.

Slash jelas bukan yang pertama melakukan cabikan dahsyat dengan gitar Gibson Les Paul. Dua dekade sebelumnya, Jimmy Page melahirkan riff dahsyat di "Black Dog". Page bahkan dikenal tak hanya dengan Les Paul, tapi juga SG. Siapa yang bisa lupa gagahnya Page menenteng SG double neck warna merah dan memainkan nada-nada tangga menuju surga.

Jika merunut nama-nama gitaris yang memakai gitar Gibson, senarainya akan sepanjang Anyer-Panarukan. Mulai dari Les Paul, Chuck Berry, B.B King, Marc Bolan, Pete Townshend, Ace Frehley, Angus Young, Joe Perry, Randy Rhoads, sampai nama gitaris lokal seperti John Paul Ivan.

Gibson memang seperti jaminan paten kalau soal gitar. Jejak sejarah perusahaan ini memang panjang. Pada 1898, Orville Gibson memulai perjalanannya di bidang instrumen berdawai dengan membuat mandolin. Agar berada di jalur resmi dan punya badan hukum, ia mendirikan Gibson Mandolin-Guitar Mfg. Co, Ltd pada 1902.

Pada 1944, Chicago Musical Instrumen membeli Gibson. Ted McCarty, seorang sarjana teknik dari Universitas Cincinnati bergabung empat tahun kemudian, dan menjadi Presiden Gibson pada 1950. Ia dianggap sebagai orang yang membawa pembaruan besar pada Gibson.

Dalam buku Gibson Guitars: 100 Years of an American Icon (1996), penulsi Walter Carter sampai membuat bab khusus berjudul "The Ted McCarty Era", alias era McCarty. Sebab McCarty dianggap berpengaruh besar pada perkembangan Gibson menjadi salah satu pabrikan gitar terbesar dunia. Di tangan McCarty, Gibson memasuki masa kejayaan di era 1950 hingga 1960-an.

"Pada awalnya, kami hanya punya 150 pegawai. Namun pada 1965, pegawai Gibson menjadi 1.200 orang," ujar McCarty.


Desain buatan McCarty dianggap "melanggar" pakem, baik dari segi teknologi maupun bentuk. Salah satunya saat ia membuat Gibson Flying V dan Explorer pada 1958. Gitar ujung lancip saat itu jelas tak lazim.
McCarty tak pernah memainkan gitar sepanjang hidupnya. Karena itu, ia kerap meminta saran dan pertimbangan dari para gitaris untuk produk Gibson. Salah satunya saat ia mengajak kerja sama Les Paul, musisi jazz sekaligus pembuat gitar. Maka lahirlah Gibson Les Paul yang legendaris itu.

Bersama Les Paul pula, Gibson melahirkan model Les Paul SG --yang kemudian menjadi SG Standar setelah Les Paul meminta namanya dicabut karena tak suka desainnya. Gibson SG --singkatan dari solid guitar-- menjadi produk Gibson paling laris. Pada 1961-1963, SG terjual lebih dari 6.000 unit, melampaui Les Paul yang terjual 1.700 unit dalam periode 1958-1960.

Di era kejayaan musik metal 1980-an, Gibson tetap menjulang, terutama berkat maraknya pemakaian Explorer dan Flying V. Gitar Gibson dipakai para gitaris dari genre blues, rock, metal, juga jazz. Membuatnya sebagai salah satu produsen gitar terbesar di dunia, bersaing dengan Fender.

Gibson Menuju Kejatuhan

Pada Juni 2017, The Washington Post menuliskan laporan panjang berjudul "Why My Guitar Gently Weeps", dengan sub judul: the slow, secret death of the six-string electric. And why you should care. Tulisan itu menyoroti kematian perlahan instrumen gitar listrik karena beberapa faktor, antara lain tak ada lagi sosok guitar hero seperti di era 50 hingga 90.

Dari data penjualan, industri gitar listrik memang terseok-seok. Pada 2007, ada 1,5 juta gitar listrik yang terjual per tahun. Namun angka itu perlahan turun, menjadi hanya 1 juta unit per tahun pada 2017. Di Amerika Serikat, toko gitar terbesar, Guitar Center, punya utang 1,6 miliar dolar.

Laporan senada juga dikeluarkan oleh Quartz. Dalam artikel berjudul "Rock and Roll is Dead, Sales of Fender and Gibson Electric Guitar Prove It", ditulis bahwa pendapatan Gibson turun dari 2,1 miliar dolar pada 2013, menjadi 1,7 miliar dolar pada 2016.

"Yang kita butuhkan adalah guitar hero," kata George Gruhn, penjual gitar berusia 71 tahun yang punya langganan dari Eric Clapton sampai Taylor Swift.

Tapi Gibson butuh lebih dari sekadar pahlawan gitar. Ia butuh keluar dari masalah. Sebelumnya, Gibson memang terjerat banyak kasus. Mulai diselidiki dalam kasus penyelundupan kayu dari Madagaskar, hingga penutupan lini bisnis piranti lunak musik yang berprospek cerah: Cakewalk.

Selain itu, saat Fender bisa didapatkan dengan harga terjangkau, Gibson dianggap mematok harga terlalu mahal. Mari membandingkan harga tipe gitar populer dari dua merek paling masyhur: Gibson dan Fender. Di situs Guitar Center, gitar Les Paul Standard dibanderol 2.500 dolar. Sedangkan Fender Stratocaster Standard harganya mulai dari 500 dolar hingga 1.900 dolar.

Sekarang, masalah besar lainnya adalah: utang dalam jumlah besar. Pada 9 Februari 2018, Nashville Post merilis artikel tentang Gibson --bermarkas di Nashville-- yang dikejar utang dalam jumlah besar. Mereka dikejar jatuh tempo pembayaran surat utang sebesar 375 juta dolar pada Juli 2018. Kalau tak bisa membayar, akan ada penambahan biaya sebesar 145 juta dolar.

Selain itu, Gibson juga seperti anak ayam kehilangan induk setelah CFO Bill Lawrence meninggalkan perusahaan setelah menjabat kurang dari setahun. Dalam waktu enam bulan hingga jatuh tempo, Gibson dianggap mustahil bisa membayar utangnya. Jika itu yang terjadi, Gibson di ambang kebangkrutan. Sejarah panjang satu abad lebih akan terancam.

"Pada akhirnya, akan ada yang mengambil alih perusahaan ini, entah itu pemberi utang atau pemegang utang," tulis penulis ekonomi Reshmi Basu.